Selasa, 09 September 2008

Cacingan Bukan Penyakit Sepele Tau

Siapa mengira, 90% anak Indonesia mengidap cacingan? Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga IQ loss adalah beberapa akibatnya.

Meski sering dianggap angin lalu, penyakit akibat diserapnya makanan oleh cacing di dalam tubuh sebaiknya tidak diremehkan. Dampaknya bagi si penderita ternyata tak kalah berbahaya ketimbang penyakit lain. Apalagi, yang jadi korban kebanyakan adalah anak-anak.

"Khususnya anak usia dua tahun ke atas yang mulai bermain di lantai/ tanah. Nah, tanahnya itu sudah tercemar (soiled), terutama oleh kotoran manusia," kata dr Adi Tagor SpA DPH dari RS Pondok Indah Jakarta.

Cacingan merupakan penyakit khas daerah tropis dan sub-tropis, dan biasanya meningkat ketika musim hujan. Pada saat tersebut, sungai dan kakus meluap, dan larva cacing menyebar ke berbagai sudut yang sangat mungkin bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Larva cacing yang masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3 minggu untuk berkembang. Cacing yang biasa "menyerbu" tubuh manusia adalah cacing tambang, cacing gelang dan cacing kremi.

"Di daerah dimana sanitasi lingkungan masih buruk, seperti Indonesia, hampir 90% anak-anaknya pasti terkena cacingan," lanjut Adi.

Di Indonesia seharusnya tidak lagi menggunakan septictank untuk keperluan buang air besar. "Khususnya di Jakarta, karena daerahnya sangat padat, seharusnya tinja langsung dibuang ke tempat penampungan, seperti di Singapura."

Ketika seorang anak yang cacingan buang air besar di lantai, maka telur atau sporanya bisa tahan berhari-hari, meskipun sudah dipel. "Sebelum dapat rumah, larva tidak akan keluar (menetas). Begitu masuk ke usus, baru ia akan keluar."

Selain melalui makanan yang tercemar oleh larva cacing, cacing juga masuk ke tubuh manusia melalui kulit (pori-pori). Dari tanah, misalnya lewat kaki anak telanjang yang menginjak larva atau telur. Bisa juga larva cacing masuk melalui pori-pori, yang biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal.

"Setelah menembus kulit, ia masuk ke pembuluh darah vena (balik), lalu menuju paru-paru. Nah, di paru-paru inilah muncul Sindroma Loffler. Anak jadi batuk seperti TBC, berdahak seperti asma. Ini termasuk ke dalam siklus perjalanan cacing."

Setelah itu, cacing menggigit dinding usus bertelur dengan cepat di usus. "Di usus inilah makanan dipecah menjadi nutrient (zat gizi elementer yang sudah bisa diserap oleh usus). Ini yang "dibajak" oleh cacing. Jadi, cacing itu memang berdomisili di usus, karena ia tidak bisa mencerna makanan sendiri. Ia harus makan yang sudah setengah cerna."

Selain siklus normal, cacing juga bisa menyebar ke tempat-tempat lain, seperti hati atau bagian tubuh lain.

Nutrisi Dibajak

Dampak cacingan ternyata tidak sepele. Dari pertumbuhan fisik yang terhambat, hingga IQ loss. Dampak yang paling banyak adalah anemia atau kadar haemoglobin (Hb) rendah. Adi melanjutkan, Hb sangat vital bagi manusia.

"Fungsinya seperti alat angkut, seperti truk yang membawa oksigen dan makanan dari usus ke seluruh organ tubuh," jelas Adi yang mengibaratkan fungsi kerja Hb yang seperti Bulog yang mengantar beras. "Kalau truk-nya sedikit, ya kiriman berasnya akan telat. Begitu pun pada orang yang anemia. Suplai oksigen dan nutrient ke otak sedikit, ke ginjal sedikit."

Padahal, seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan banyak nutrient. "Nutrisi itu dibagi dua, yaitu makro nutrient (karbohidrat, lemak, protein, air) dan mikro nutrient (vitamin dan mineral). Nah, ini yang dibajak. Jadi, yang gemuk cacingnya, bukan anaknya," tandas Adi. "Di dalam tubuh, cacing-cacing ini akan beranak lagi, lagi dan lagi. Kadang-kadang, kalau menggumpal, bentuknya seperti bola. Bisa juga terjadi "erratic", cacing keluar keluar lewat hidung atau mulut."

Anemia membuat anak gampang sakit karena tidak punya daya tahan. "Gimana mau sehat kalau zat-zat untuk membuat daya tahan, terutama protein, sudah dibajak di usus oleh cacing," lanjutnya. Anak juga akan kehilangan berat badan, dan prestasi belajar turun.

Berakibat Fatal

Cacingan juga bisa berakibat fatal. "Bisa ke empedu, meski jarang, atau bikin usus bolong. Fatalnya memang tidak secara langsung, tapi karena fisiknya lemah, daya tahan turun, maka penyakit lain pun masuk. Nah, penyakit lain inilah yang bikin fatal."

Gejala cacingan biasanya ditandai dengan sakit perut, diare berulang dan kembung. "Seringkali juga ada kolik yang tidak jelas dan berulang," jelas Adi. Kalau sudah parah, "Muka anak akan tampak pucat dan badan kurus. Ini berarti sudah terjadi pemiskinan secara fisik," lanjut dokter spesialis anak yang juga pemegang diploma kesehatan publik dari Singapura ini.

Kapan orang tua membawa anak ke dokter? Di daerah tropis dan sub-tropis, apalagi di daerah yang sanitasinya buruk, hampir semua anak pasti cacingan. Di daerah miskin, angka cacingan pada anak bahkan dipastikan bisa 100%!!

"Jadi, nggak perlu diperiksa, pasti cacingan. Oleh karena itu, setiap enam bulan sekali pada masa usia tumbuh, yaitu usia 0 sampai sekitar usia 15 tahun, anak diberi obat cacing." Jangka waktu enam bulan ini untuk memotong siklus kehidupan cacing.

Dewasa Juga Cacingan

Menurut Adi Tagor, orang dewasa pun bisa cacingan. "Obat cacingnya untuk orang dewasa juga ada, tapi diberikan setahun sekali." Yang membedakan cacingan pada anak dan pada dewasa adalah, anak-anak masih tumbuh dan berkembang, sementara orang dewasa sudah tidak lagi tumbuh dan berkembang. "Orang dewasa juga masih bisa survive, bisa melawan sendiri cacing yang ada."

Yang harus dicermati adalah, kira-kira 60-80% penyakit yang terjadi pada usia dewasa dimulai di usia pertumbuhan. Misalnya, anemia kronis akibat cacingan. Ini akan membuat jumlah sel otak berkurang karena kekurangan nutrisi selama masa tumbuh kembang.

Akibatnya, ketika dewasa, kualitas fisik dan IQ orang tersebut tentu akan berkurang juga. Contoh lain, ketika kecil terkena penyakit infeksi yang tidak ketahuan. "Setelah dewasa sakit ginjal, dan sebagainya."

Tips Menghindari Cacingan

Biasakan anak untuk membersihkan tangan dengan sabun, sebelum makan, seusai makan atau setelah bermain, khususnya di luar rumah.

  • Potong kuku anak secara teratur. Kuku panjang bisa menjadi tempat bermukim larva cacing.
  • Ajari anak untuk tidak terbiasa memasukkan tangan ke dalam mulutnya. Selalu pakaikan sandal atau sepatu setiap kali anak bermain di luar rumah.
  • Jaga kebersihan sanitasi lingkungan, misalnya dengan rajin membersihkan kakus atau septictank
SUMBER : JAWABAN HEALTH

BATUK BISA KARENA CACINGAN

Juga sebabkan kematian
JAMBI-Istilah cacingan tentu tak asing lagi bagi masyarakat Jambi. Hanya saja, banyak masyarakat mengganggap penyakit ini tidak berbahaya. Padahal, jika penderita penyakit ini tidak ditangani sejak dini bisa berakibat fatal, karena bisa menyebabkan kematian.
Kepada Jambi Independent dr Pandji, PB SpA menjelaskan, penyakit cacing atau biasa disebut masyarakat dengan penyakit cacingan, sangat rawan di derita anak-anak. Penyakit ini biasanya akan menjangkit pada anak yang mulai turun tanah atau mengenal tanah seperti bayi yang mulai bisa merangkak hingga anak yang duduk di bangku sekolah.

“Orang tua terkadang melupakan penyakit ini pada anak-anaknya. Padahal penyakit ini jika tidak ditangani secara serius akan membahayakan bagi jiwa anak karena bisa menyebabkan kematian,” jelas dokter spesialis anak Rumah Sakit Theresia ini.
Penyakit cacing jelas dr Panji, bisa membuat terjadinya gangguan sistimik atau zubur pada anak yang cukup membahayakan. Umumnya, jelas dr Panji, penyakit ini ditularkan melalui tanah yang tercemar tinja penderita cacingan.
Cacing yang ditularkan melalui tanah ini, kata dia, paling banyak disebabkan ascaris (cacing gelang), ankilostomiasis (cacing tambang), dan trikuriasis.
Anak yang menderita cacingan, menurut dr Panji, akan mengalami beberapa keluhan. Di antaranya merasa terganggu dengan gatal-gatal pada duburnya, mengalami kembung pada bagian perut, dan juga diare, serta berbagai gangguan-gangguan lain.
Khusus anak yang menderita cacing gelang atau (ascaris), biasanya akan mengalami susah tidur pada malam hari. Ini karena cacing biasanya keluar pada malam hari di saat anak sedang beristirahat.
Penularan penyakit ini, lanjut Panji, terjadi apabila telur cacing termakan oleh anak. Masuknya telur cacing ini bisa melalui beberapa cara. Di antaranya, lewat makanan atau sayur yang dimasak secara tidak benar atau kurang matang, sehingga telur cacing yang ada pada sayuran tidak mati. Selain itu, bisa juga karena proses mencuci sayuran atau makanan yang tidak bersih, sehingga telur cacing ikut termakan oleh anak.
Telur cacing yang ikut termakan anak melalui makanan ini, akan membuat larva dari telur menembus dinding usus lalu masuk ke dalam sirkulasi darah lalu menuju ke paru-paru, ini akan menimbulkan gangguan yang akan sangat mengganggu bagi anak. Sebagian telur cacing tertular melalui bentuk saluran cerna kembali, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa yang hidup di dalam usus.
Parahnya, menurut Panji, seekor cacing gelang dewasa bisa menghisap 0,14 gram karbohidrat setiap hari, selain itu cacing ini juga mengganggu penyerapan vitamin A. Keadaan ini jika terjadi terus menerus dapat menyebabkan penurunan berat badan pada anak. Bahkan, bisa membuat anak mengalami gizi buruk.
Cacingan, sambung dia, juga bisa membuat membuat anak menderita batuk, tubuh kurus dan terkadang keluar cacing dari duburnya. “Jika Anda mendapatkan anak Anda dengan gejala seperti ini disarankan untuk segera diperiksa, sehingga bisa dicarikan cara pengobatannya,” katanya.
Penyebab cacingan yang lain, menurut Panji, dari cacing tambang. Cacingan jenis ini juga ditularkan melalui tanah. Parahnya lagi, cacing tambang yang berada di dalam perut anak bisa menghisap darah 0,1 sampai dengan 0,2 mili darah setiap harinya.
“Jadi bisa kita bayangkan bagaimana kondisi anak yang mengidap penyakit cacing tambang dengan jumlah cukup banyak yang berkembang di dalam ususnya. Anak dengan penyakit ini bisa kehilangan darah dalam jumlah yang banyak setiap harinya,” terangnya.
Akibatnya, sambung dia, anak akan menderita penyakit anemia atau kekurangan darah, bahkan jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung anak juga berisiko mengalami gagal jantung yang membuat anak meninggal dunia.
Anak yang menderita cacingan dan terkena anemia, jelas Panji, juga akan mempengaruhi prestasi belajar di sekolah.
Penyebab cacingan yang terakhir adalah cacing trikuriasis. Penyakit ini juga ditularkan melalui tanah. Cacing jenis ini juga sangat membahayakan bagi anak. Cacing yang berkembang di dalam usus besar, di samping akan menghisap makanan juga akan mengisap darah. Parahnya lagi, setiap cacing jenis ini mampu menghisap 0,005 mili setiap harinya.(usi

SUMBER : JAMBI INDEPENDENT ONLINE

Bahaya Jajan di Jalanan . . .

Oleh Dr. Handrawan Nadesul

Bahaya makanan jajanan sekolah dan makanan umum lainnya bisa muncul untuk jangka pendek, bisa juga pada jangka panjang. Jangka pendek, terjadi �keracunan makanan� sebab tercemar mikroorganisme, parasit, atau bahan racun kimiawi (pestisida). Muntah dan diare sehabis mengonsumsi jajanan paling sering ditemukan.

Bayangkan kalau minuman jajanan dibuat dan air mentah (tentu berkuman). Belum bahaya yang datang dari zat tambahan (additive) yang berisiko membahayakan kesehatan, tentu akan menimbulkan keluhan seperti, pening, pusing, sampai gangguan kesadaran (susunan saraf pusat). Bahaya jangka panjang jajanan yang tidak menyehatkan, apabila bahan tambahan dalam makanan - minuman bersifat pemantik kanker, selain kemungkinan gangguan kesehatan lainnya. Kita menyaksikan hampir semua kalangan di Indonesia, baik anak sekolah, orang kantoran di kota besar, apalagi yang di pedesaan, rata-rata sudah tercemar oleh beragam bahan kimiawi berbahaya dalam makanan, kudapan, atau penganan jajanan mereka.

Melihat kondisi seperti ini, semakin murah-meriah suatu jajanan, boleh disimpulkan semakin besar berisiko membahayakan kesehatan. Bahaya jangka panjang juga muncul bila jajanan sampai tercemar cacing. Kebanyakan sayur mayur mentah (pernah diselidiki) di supermarket mengandung telur cacing perut karena konon sebelum dibawa ke kota, dibersihkan memakai air selokan di gunung. Air selokan umumnya sudah tercemar tinja berpenyakit (penderita penyakit cacing perut). Telur cacing juga dapat pula dibawa oleh jemari penjaja makanan (gado-gado, rujak, buah dingin, karedok, ketoprak) bila penjaja makanan (food handle,) mengidap penyakit cacing. Sehabis penjaja makanan buang air besar dan tidak membasuh tangan dulu tetapi langsung menyajikan makanan, telur cacing di kuku jemarinya akan mencemari makanan jajanannya.

Di sela-sela kuku jemari tangan telur cacing mengendon, dan pindah ke makanan jajanan. Cacing kremi, cacing tambang, cacing gelang, cacing cambuk, jenis-jenis cacing yang lazim ditularkan dari makanan jajanan.

Sering pengidap cacing tidak merasakan keluhan apa-apa, termasuk orang gedongan dan pekerja kantoran. Biasanya baru kedapatan cacingan kalau iseng melakukan pemeriksaan laboratorium tinja. Tahu-tahu ada telur cacingnya.

Pada anak sekolah, kecacingan bisa berakibat kekurangan darah (anemia). Baru-baru ini diberitakan bahwa lebih separuh anak sekolah dasar (sampel sebuah Yayasan LSM) menderita anemia. Besar kemungkinan, selain sanitasi yang buruk, penyebabnya bersumber dari jajanan harian yang tercemar cacing perut


SUMBER : DEPKES RI

Anemia Gizi Anak Salah Satu Masalah Gizi Utama Di Indonesia

Anemia gizi besi di masyarakat atau dikenal dengan kurang darah, merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia yang dapat diderita oleh seluruh kelompok umur mulai bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa dan lanjut usia.

Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa penderita gizi buruk juga menderita kekurangan zat besi yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara klinis, anemia gizi dapat dikenali dengan adanya gejala 5 L yaitu lesu, lemah, letih, lelah dan lalai. Masalah anemia gizi dapat diketahui melalui pemeriksaan haemaglobin dalam darah.

Demikian disampaikan Direktur Gizi Masyarakat Dr. Rachmi Untoro, MPH di Jakarta, 4 Agustus 2005 dalam pembukaan seminar sehari bertajuk Dampak Anemia Gizi Besi Terhadap Kecerdasan Anak. Acara ini berlangsung dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2005.

Menurut Dr. Rachmi Untoro, anemia gizi merupakan masalah yang harus ditanggulangi bersama dengan dukungan kemitraan Lintas Program dan Lintas Sektor terkait, selain itu juga keterlibatan pihak Swasta, LSM, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Oleh karena itu dalam rangka HAN 2005 kita bersama berharap dapat meningkatkan kerjasama dan kemitraan dari berbagai pihak terkait agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001, prevalensi anemia pada balita 0-5 tahun sekitar 47%, anak usia sekolah dan remaja sekitar 26,5% dan Wanita Usia Subur (WUS) berkisar 40%. Sementara survei di DKI Jakarta tahun 2004 menunjukkan angka prevalensi anemia pada balita sebesar 26,5% dan pada ibu hamil 43,5%. Melihat beberapa hasil survei ini, anemia gizi masih merupakan masalah gizi utama pada anak-anak, ibu hamil dan wanita pada umumnya.

Jenis dan besaran masalah gizi di Indonesia tahun 2001 – 2003 menunjukkan 2 juta ibu hamil menderita anemia gizi, 350 ribu berat bayi lahir rendah setiap tahun, 5 juta balita gizi kurang, 8,1 juta anak dan 3,5 juta remaja dan wanita usia subur menderita anemia gizi besi, 11 juta anak pendek, dan 30 juta kelompok usia produktif Kurang Energi Kronis.

Anemia gizi besi disebabkan oleh hubungan timbak balik antara kecukupan intake gizi terutama zat besi dan protein dengan infeksi penyakit terutama kecacingan. Maka penanggulangannya adalah dengan memberikan suplementasi zat besi berupa tablet tambah darah dan penanggulangan kecacingan.

Dampak yang ditimbulkan anemia gizi pada anak adalah kesakitan dan kematian meningkat, pertumbuhan fisik, perkembangan otak, motorik, mental dan kecerdasan terhambat, daya tangkap belajar menurun, pertumbuhan dan kesegaran fisik menurun serta interaksi sosial kurang. Keadaan ini tentu memprihatinkan bila menimpa anak-anak Indonesia yang nantinya akan menjadi penerus pembangunan. Oleh karenanya, seluruh komponen bangsa (pemerintah, legislatif, swasta dan masyarakat) bertanggung jawab memenuhi hak-hak anak yaitu kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan serta perlindungan demi kepentingan terbaik anak sebagaimana termaktub dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sementara itu kebutuhan dasar anak untuk tumbuh dan berkembang meliputi pemenuhan kasih sayang dan perlindungan, makanan bergizi seimbang (sejak lahir sampai 6 bulan hanya ASI saja, 6 bulan – 2 tahun ASI ditambah makanan pendamping ASI). Selain itu, anak-anak juga perlu imunisasi dan suplementasi kapsul vitamin A, pendidikan dan pengasuhan, perawatan kesehatan dan pencegahan kecacatan dan cedera serta lingkungan yang sehat dan aman.

Dalam acara seminar sehari ini hadir pula para pembicara pakar diantaranya Prof. Dr. Sutaryo dari IDAI membahas Prospek Intervensi Gizi Mikro pada Pertumbuhan dan Perkembangan Anak, Dr. Adi Sasongko dari Yayasan Kusuma Buana mengangkat topik Penangulangan Anemia Berbasis Sekolah Dasar, dan perwakilan dari Dinkes DKI Jakarta yang memaparkan Status Anemia Gizi Murid SD / MI Di Lima Wilayah Kota di DKI Jakarta

SUMBER : DEPKES RI

Pendekatan Terkoordinasi Tanggulangi Infeksi Kecacingan

Baru-baru ini WHO dan kelompok kerja yang terdiri lebih dari 25 organisasi mencoba menerapkan strategi baru untuk memerangi beberapa penyakit tropis yang paling sering diabaikan dan berperan besar dalam permasalahan kesehatan masyarakat miskin. Pendekatan ini dimuat dalam terbitan pedoman terbaru, Preventive Chemotherapy in Human Helminthiasis, yang mengkhususkan pada bagaimana dan kapan obat murah atau bahkan gratis harus digunakan pada negara-negara berkembang untuk mengendalikan serangkaian penyakit akibat infeksi cacing.

Upaya pencegahan yang diwujudkan dalam bentuk kemoterapi ini berupa penggunaan obat-obatan yang efektif terhadap infeksi cacing. Terdapat 4 besar infeksi cacing daerah pada wilayah tropis yang termasuk dalam target upaya ini, yaitu; onchocerciasis, elephantiasis atau lymphatic filariasis, schistosomiasis, dan soil-transmitted helminthiasis. Demikian seperti dikutip dari situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada strategi ini juga diupayakan pengintegrasian dengan pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi lainnya seperti trachoma. Menurut Direktur WHO untuk Pengendalian Penyakit Wilayah Tropis yang diabaikan di Jenewa, Dr Lorenzo Savioli, mengatakan bahwa pencegahan dengan kemoterapi tidak akan menghentikan infeksi namun dapat membantu mengurangi penularan.

Pencegahan kemoterapi memiliki keuntungan lain, yaitu secara cepat mengembangkan kesehatan dan mencegah penyakit yang tidak dapat diobati pada orang dewasa. �Dengan cara yang sama seperti kita melindungi masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, penggunaan sebagian obat pada umumnya dapat melindungi masyarakat dari penyakit akibat cacing, meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah dan produktivitas ekonomi orang dewasa�.

Lebih dari satu milyar orang menderita akibat penyakit ini. Dampaknya dapat dilihat dari terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, komplikasi kehamilan, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kerusakan tubuh secara signifikan hingga kecacatan, kebutaan, stigma sosial, serta produktivitas ekonomi dan pendapatan rumah tangga yang menurun. Hal tersebut kini dapat dikurangi dengan meningkatkan intervensi menggunakan obat yang efektif dengan kualitas dan keamanan yang sudah terbukti.

Komponen penting kedua dari strategi ini adalah, untuk pertama kalinya bagi banyak Agensi, LSM, perusahaan obat, dan unsur terkait lainnya bersatu ke dalam sebuah �serangan terkoordinasi� untuk memerangi penyakit yang selama ini sedikit terabaikan. Berbagai elemen ini menyatukan sumber daya dan ahli yang dimiliki untuk menghasilkan pedoman manual bagi penggunaan obat secara luas. Melalui strategi ini, diharapkan keberhasilan dapat tercapai bagi dunia kesehatan masyarakat terkait dengan penyakit-penyakit tersebut.

Menurut Dr David Heymann selaku Asisten Direktur Jenderal untuk Penyakit Menular WHO, saat ini dibutuhkan kerjasama untuk meningkatkan akses terhadap intervensi yang berdampak cepat dan perawatan yang berkualitas. �Kebutuhan untuk melakukannya tidak diragukan lagi bila dilihat dari berbagai sudut pandang; moral, HAM, ekonomi, dan kebutuhan masyarakat global. Tugas ini dapat dan harus dilakukan, � .

Upaya yang intensif harus dimulai sekarang, melalui langkah ini diharapkan penerapan pengobatan untuk mencegah kecacingan akan menjadi kontribusi yang berarti dalam menghadapai tantangan yang akan datang mencapai target MDGs

SUMBER : DEPKES RI

Mengintip Ulah Cacing Perut, Oh Seraam

Ukurannya renik. Namun, di balik itu mereka telah merugikan negara miliaran rupiah. Pekerjaannya mencuri makanan di usus kita. Akibatnya, banyak murid SD yang seharusnya pandai seperti Dora menjadi kurang gizi dan ngantukan karena cacingan.

Begitulah cacing yang hidup di perut kita. Siklus hidupnya melewati tempat-tempat kotor. Namun, nama-nama mereka lumayan elok. Ada Trichuris trichuria (cacing cambuk), Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (tambang), serta Enterobius vermicularis (cacing keremi).

Di antara keluarga besar cacing itu, yang paling banyak bikin masalah memang cacing cambuk dan cacing gelang. Sejak zaman kumpeni, keluarga cacing ini sudah bikin repot para mantri kesehatan.

Konon, di Indonesia, �Sekitar 60 - 80% anak usia sekolah menderita cacingan,� kata dr. Adi Sasongko, MA, Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma I Buana, Jakarta, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang giat melakukan program pemberantasan cacingan.

Satu Juta Sehari

Di dunia cacing berlaku peribahasa mati esa, berbilang selaksa. Tak heran kalau kemudian komunitasnya di perut gampang meluas. Sebagai gambaran, seekor cacing gelang betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Jika di dalam perut terdapat lima ekor saja, mereka sanggup memproduksi satu juta telur dalam sehari!

Ukuran telurnya hanya dalam satuan mikron (1 mikron sama dengan seperseribu milimeter). Saking kecilnya, telur-telur itu hanya bisa dilihat dengan mikroskop.

Telur cacing keluar dari perut manusia bersama feses. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing. Meskipun Usrok buang hajat di WC, ia tetap saja bisa menyebarkan telur ini bila kakusnya meluber saat musim banjir.

Jika air yang telah tercemar dipakai Pak Ogah untuk menyirami tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu. Saking reniknya telur-telur itu tak akan pecah, meskipun dilindas ban mobil atau sepeda motor. Sambil menumpang debu, telur itu tertiup angin, lalu mencemari gorengan atau es doger yang dijual terbuka di pinggir-pinggir jalan.

Telur lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan manusia. Lewat interaksi sehari-hari, mereka bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Mereka akan masuk ke dalam perut jika si empunya tangan biasa makan tanpa cuci tangan.

Karena menular lewat makanan, korban cacingan umumnya anak-anak yang biasa jajan di pinggir jalan. Mereka juga bisa menelan telur cacing dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih. Misalnya, hanya dicelup-celup di baskom tanpa dibilas dengan air mengalir.

Mencuri makanan di Usus

Ketika masuk ke perut seseorang, segera setelah menetas, cacing yunior akan �sungkem� kepada emaknya yang tinggal di usus halus. Setelah mendapat restu, ia akan membantu emaknya menggerogoti isi perut Usrok.

Begitu mencapai umur 2 - 3 bulan, cacing itu akan menjelma menjadi seekor cacing betina dewasa yang siap bertelur. Sejak itu, ia akan membuat siklus baru buat cacing-cacing generasi berikutnya. Saat sudah dewasa, panjang badan mereka bisa mencapai 30 cm, lebih panjang dari pensil baru. Oh seraaam!

Namun, tak semua cacing segede itu. Cacing cambuk, misalnya, hanya sepanjang 5 cm. Produksi telurnya pun kalah jauh dari cacing gelang. �Hanya� 5 - 10 ribu telur per hari. Biasanya jumlah komplotan mereka jauh lebih banyak dari cacing gelang. Lebih kurang ajar lagi, mereka tidak hanya mencuri makanan di usus.

Setelah kenyang menyantap nasi dan telur, mereka beramai-ramai menyesap darah dari dinding usus. Dalam sehari, seekor cacing cambuk dewasa bisa minum darah 0,005 ml. Jika di dalam perut Usrok terdapat 100 ekor, maka dalam sebulan Usrok harus kehilangan darah sebanyak 15 ml. Tak mengherankan, penderita cacingan biasanya juga menderita kurang gizi dan anemia.

Kebiasaan minum darah juga dimiliki oleh cacing tambang. Meski bertubuh kecil (hanya sekitar 1 cm), mereka punya sepasang cakil yang bisa digunakan untuk mengigit permukaan usus. Jika mereka sedang ganas, gigitan mereka bisa sampai menyebabkan luka pada dinding usus.

Cara penularan cacing tambang pun lebih canggih. Tak cuma lewat makanan. Dua hari setelah keluar dari perut induknya, telur cacing tambang menetas menjadi larva. Ukuran larva ini juga superkecil, hanya dalam satuan mikron. Begitu kecilnya, larva bisa masuk ke dalam tubuh Usrok lewat pori-pori kulit.

Dengan menumpang arus peredaran darah, mereka bisa mencapai jantung dan paru-paru. Di dalam paru-paru mereka menembus alveolus (kantung paru-paru), lalu merangkak naik ke atas sampai di tenggorokan.

Setelah melewati perjalanan berliku-liku, mereka ikut tertelan bersama makanan, dan akhirnya mencapai usus.

Karena daerah jajahannya yang sedemikian luas, cacing ini tak hanya menimbulkan masalah di usus, tapi juga di jaringan otot, paru-paru, dan lambung. Selain bisa menyebabkan anemia, cacing ini juga bisa menyebabkan radang paru-paru dan radang tenggorokan.

Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus halus yang hanyak berisi makanan. Meski ada juga yang tinggal di usus besar, dekat dengan �pintu keluar�, misalnya cacing keremi.

Di malam hari, cacing betina dewasa mengendap-endap pergi ke �katup belakang� untuk meletakkan telur. Ulahnya yang kurang ajar ini bisa menimbulkan rasa gatal hebat di sekitar anus Usrok.

Jika Usrok selalu menggaruk-garuk anusnya saat lagi tidur, bisa jadi itu pertanda cacing keremi sedang beraksi. Saat digaruk, telur-telur ini bersembunyi di jari dan kuku Usrok. Sebagian lagi menempel di seprei, bantal, guling, dan pakaiannya. Lewat kontak langsung, telur menular ke orang-orang yang tinggal serumah dengan Usrok. Lalu, siklus cacingan pun dimulai lagi.

Kuncinya Hidup Bersih

Menurut Adi Sasongko, kunci pemberantasan cacingan adalah memperbaiki higiene dan sanitasi lingkungan. Misanya, tidak menyiram jalanan dengan air got. Sebaiknya, bilas sayur mentah dengan air mengalir atau mencelupkannya beberapa detik ke dalam air mendidih. Juga tidak jajan di sembarang tempat, apalagi jajanan yang terbuka. Biasakan pula mencuci tangan sebelum makan, bukan hanya sesudah makan. Dengan begitu, rantai penularan cacingan bisa diputus.

Pada saat bersamaan, anak-anak yang menderita cacingan harus segera diobati. Namun, meski semua anak sudah minum obat cacing, tak berarti masalah cacingan akan selesai saat itu juga.

Pemberantasan cacingan adalah kerja gotong royong yang butuh waktu bertahun-tahun. Negara maju sepenti Jepang pun pernah dibuat sibuk oleh ulah para cacing perut ini. Setelah kalah oleh Sekutu saat Perang Dunia II, Jepang jatuh menjadi negara miskin. Karena miskin, mereka menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk pertanian.

Akibatnya, penularan cacing menjadi tak terkendali, sampai menyerang 80% penduduk. Butuh waktu 10 tahun untuk menurunkan angka kecacingan hingga di bawah 10%.

Pada kasus cacingan ringan sampai sedang, gejalanya sulit dikenali. Untuk memastikan, anak-anak harus diperiksa tinjanya dengan mikroskop. Jika terbukti mengandung telur cacing, ia harus segera diobati. Dengan obat cacing tentunya. Namun, bila lewat pemeriksaan ternyata anak-anak terbukti sehat, simpan saja obat itu di kotak obat untuk digunakan bila di dalam perut si Usrok berkeliaran cacing perut. (Intisari)

SUMBER : DEPKES RI

Anemia Infeksi Kecacingan

Hubungan Antara Anemia Infeksi Kecacingan pada Ibu Hamil terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah

Ditulis pada Mei 30, 2008 oleh Ihm hambuako

Nur Eli Asomah[1], Teguh Rubedo[2], Siti Helmyati[3], Wijianto4

INTISARI

Latar Belakang: Penyakit Infeksi dan parasit merupakan masalah kesehatan yang menonjol, shg pencegahan dan pemberantasan memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh. Prevalensi dan intensitas infeksi kecacingan masih cukup tinggi, yaitu antara 40-60% pada golongan semua umur, pada anak sekolah dasar lebih tinggi, yaitu 60-80% secara kumulatif infeksi kecacingan dapat menimbulkan kekurangan kalori, protein dan darah Hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Banggai tahun 2006 didapatkan bahwa 88.9% ibu hamil terinfeksi kecacingan dengan jenis cacing adalah Ascaris lumbricoides, Trichiuris trichiura dan Hook worms, diantara ibu hamil yang menderita infeksi kecacingan terdapat 38.8% menderita anemia

Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan anemia infeksi kecacingan pada ibu hamil terhadap kejadian Bayi berat lahir rendah di kabupaten Banggai Sulawesi Tengah

Metodologi Penelitian : Penelitian ini dilakukan di Banggai dan merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian kohort. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2007. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil yang menjadi responden pada penelitian anemia 2006 pada bulan September s/d November, sebanyak 298 ibu hamil. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 85 orang kasus dan 85 orang kontrol. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan adalah uji Chi - Square dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil Penelitian : Ibu yang menderita anemia jumlah anak yang dilahirkan dengan status BBLR sebesar 18,8%, sedangkan pada kelompok ibu yang tidak menderita anemia yang melahirkan dengan dengan BBLR 15,3%. ibu yang terinfeksi kecacingan dengan intensitas berat melahirkan anak 31% dengan status BBLR, dan ibu yang terinfeksi kecacingan dengan intensitas berat melahirkan anak 38.3% dengan berat badan normal . Ibu hamil yang menderita anemia dan terinfeksi kecacingan yang melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah terdapat 55,2%. Sedangkan ibu yang tidak anemia anaknya yang lahir dengan berat badan lahir rendah sebanyak 44,8%

Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna Anemia infeksi kecacingan dengan kejadian berat badan lahir rendah. Infeksi kecacingan pada ibu hamil tidak mempengaruhi secara langsung terhadap kejadian BBLR

SUMBER : DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANGGAI