Selasa, 09 September 2008

Pendekatan Terkoordinasi Tanggulangi Infeksi Kecacingan

Baru-baru ini WHO dan kelompok kerja yang terdiri lebih dari 25 organisasi mencoba menerapkan strategi baru untuk memerangi beberapa penyakit tropis yang paling sering diabaikan dan berperan besar dalam permasalahan kesehatan masyarakat miskin. Pendekatan ini dimuat dalam terbitan pedoman terbaru, Preventive Chemotherapy in Human Helminthiasis, yang mengkhususkan pada bagaimana dan kapan obat murah atau bahkan gratis harus digunakan pada negara-negara berkembang untuk mengendalikan serangkaian penyakit akibat infeksi cacing.

Upaya pencegahan yang diwujudkan dalam bentuk kemoterapi ini berupa penggunaan obat-obatan yang efektif terhadap infeksi cacing. Terdapat 4 besar infeksi cacing daerah pada wilayah tropis yang termasuk dalam target upaya ini, yaitu; onchocerciasis, elephantiasis atau lymphatic filariasis, schistosomiasis, dan soil-transmitted helminthiasis. Demikian seperti dikutip dari situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada strategi ini juga diupayakan pengintegrasian dengan pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi lainnya seperti trachoma. Menurut Direktur WHO untuk Pengendalian Penyakit Wilayah Tropis yang diabaikan di Jenewa, Dr Lorenzo Savioli, mengatakan bahwa pencegahan dengan kemoterapi tidak akan menghentikan infeksi namun dapat membantu mengurangi penularan.

Pencegahan kemoterapi memiliki keuntungan lain, yaitu secara cepat mengembangkan kesehatan dan mencegah penyakit yang tidak dapat diobati pada orang dewasa. �Dengan cara yang sama seperti kita melindungi masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, penggunaan sebagian obat pada umumnya dapat melindungi masyarakat dari penyakit akibat cacing, meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah dan produktivitas ekonomi orang dewasa�.

Lebih dari satu milyar orang menderita akibat penyakit ini. Dampaknya dapat dilihat dari terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, komplikasi kehamilan, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kerusakan tubuh secara signifikan hingga kecacatan, kebutaan, stigma sosial, serta produktivitas ekonomi dan pendapatan rumah tangga yang menurun. Hal tersebut kini dapat dikurangi dengan meningkatkan intervensi menggunakan obat yang efektif dengan kualitas dan keamanan yang sudah terbukti.

Komponen penting kedua dari strategi ini adalah, untuk pertama kalinya bagi banyak Agensi, LSM, perusahaan obat, dan unsur terkait lainnya bersatu ke dalam sebuah �serangan terkoordinasi� untuk memerangi penyakit yang selama ini sedikit terabaikan. Berbagai elemen ini menyatukan sumber daya dan ahli yang dimiliki untuk menghasilkan pedoman manual bagi penggunaan obat secara luas. Melalui strategi ini, diharapkan keberhasilan dapat tercapai bagi dunia kesehatan masyarakat terkait dengan penyakit-penyakit tersebut.

Menurut Dr David Heymann selaku Asisten Direktur Jenderal untuk Penyakit Menular WHO, saat ini dibutuhkan kerjasama untuk meningkatkan akses terhadap intervensi yang berdampak cepat dan perawatan yang berkualitas. �Kebutuhan untuk melakukannya tidak diragukan lagi bila dilihat dari berbagai sudut pandang; moral, HAM, ekonomi, dan kebutuhan masyarakat global. Tugas ini dapat dan harus dilakukan, � .

Upaya yang intensif harus dimulai sekarang, melalui langkah ini diharapkan penerapan pengobatan untuk mencegah kecacingan akan menjadi kontribusi yang berarti dalam menghadapai tantangan yang akan datang mencapai target MDGs

SUMBER : DEPKES RI

Mengintip Ulah Cacing Perut, Oh Seraam

Ukurannya renik. Namun, di balik itu mereka telah merugikan negara miliaran rupiah. Pekerjaannya mencuri makanan di usus kita. Akibatnya, banyak murid SD yang seharusnya pandai seperti Dora menjadi kurang gizi dan ngantukan karena cacingan.

Begitulah cacing yang hidup di perut kita. Siklus hidupnya melewati tempat-tempat kotor. Namun, nama-nama mereka lumayan elok. Ada Trichuris trichuria (cacing cambuk), Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (tambang), serta Enterobius vermicularis (cacing keremi).

Di antara keluarga besar cacing itu, yang paling banyak bikin masalah memang cacing cambuk dan cacing gelang. Sejak zaman kumpeni, keluarga cacing ini sudah bikin repot para mantri kesehatan.

Konon, di Indonesia, �Sekitar 60 - 80% anak usia sekolah menderita cacingan,� kata dr. Adi Sasongko, MA, Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma I Buana, Jakarta, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang giat melakukan program pemberantasan cacingan.

Satu Juta Sehari

Di dunia cacing berlaku peribahasa mati esa, berbilang selaksa. Tak heran kalau kemudian komunitasnya di perut gampang meluas. Sebagai gambaran, seekor cacing gelang betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Jika di dalam perut terdapat lima ekor saja, mereka sanggup memproduksi satu juta telur dalam sehari!

Ukuran telurnya hanya dalam satuan mikron (1 mikron sama dengan seperseribu milimeter). Saking kecilnya, telur-telur itu hanya bisa dilihat dengan mikroskop.

Telur cacing keluar dari perut manusia bersama feses. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing. Meskipun Usrok buang hajat di WC, ia tetap saja bisa menyebarkan telur ini bila kakusnya meluber saat musim banjir.

Jika air yang telah tercemar dipakai Pak Ogah untuk menyirami tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu. Saking reniknya telur-telur itu tak akan pecah, meskipun dilindas ban mobil atau sepeda motor. Sambil menumpang debu, telur itu tertiup angin, lalu mencemari gorengan atau es doger yang dijual terbuka di pinggir-pinggir jalan.

Telur lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan manusia. Lewat interaksi sehari-hari, mereka bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Mereka akan masuk ke dalam perut jika si empunya tangan biasa makan tanpa cuci tangan.

Karena menular lewat makanan, korban cacingan umumnya anak-anak yang biasa jajan di pinggir jalan. Mereka juga bisa menelan telur cacing dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih. Misalnya, hanya dicelup-celup di baskom tanpa dibilas dengan air mengalir.

Mencuri makanan di Usus

Ketika masuk ke perut seseorang, segera setelah menetas, cacing yunior akan �sungkem� kepada emaknya yang tinggal di usus halus. Setelah mendapat restu, ia akan membantu emaknya menggerogoti isi perut Usrok.

Begitu mencapai umur 2 - 3 bulan, cacing itu akan menjelma menjadi seekor cacing betina dewasa yang siap bertelur. Sejak itu, ia akan membuat siklus baru buat cacing-cacing generasi berikutnya. Saat sudah dewasa, panjang badan mereka bisa mencapai 30 cm, lebih panjang dari pensil baru. Oh seraaam!

Namun, tak semua cacing segede itu. Cacing cambuk, misalnya, hanya sepanjang 5 cm. Produksi telurnya pun kalah jauh dari cacing gelang. �Hanya� 5 - 10 ribu telur per hari. Biasanya jumlah komplotan mereka jauh lebih banyak dari cacing gelang. Lebih kurang ajar lagi, mereka tidak hanya mencuri makanan di usus.

Setelah kenyang menyantap nasi dan telur, mereka beramai-ramai menyesap darah dari dinding usus. Dalam sehari, seekor cacing cambuk dewasa bisa minum darah 0,005 ml. Jika di dalam perut Usrok terdapat 100 ekor, maka dalam sebulan Usrok harus kehilangan darah sebanyak 15 ml. Tak mengherankan, penderita cacingan biasanya juga menderita kurang gizi dan anemia.

Kebiasaan minum darah juga dimiliki oleh cacing tambang. Meski bertubuh kecil (hanya sekitar 1 cm), mereka punya sepasang cakil yang bisa digunakan untuk mengigit permukaan usus. Jika mereka sedang ganas, gigitan mereka bisa sampai menyebabkan luka pada dinding usus.

Cara penularan cacing tambang pun lebih canggih. Tak cuma lewat makanan. Dua hari setelah keluar dari perut induknya, telur cacing tambang menetas menjadi larva. Ukuran larva ini juga superkecil, hanya dalam satuan mikron. Begitu kecilnya, larva bisa masuk ke dalam tubuh Usrok lewat pori-pori kulit.

Dengan menumpang arus peredaran darah, mereka bisa mencapai jantung dan paru-paru. Di dalam paru-paru mereka menembus alveolus (kantung paru-paru), lalu merangkak naik ke atas sampai di tenggorokan.

Setelah melewati perjalanan berliku-liku, mereka ikut tertelan bersama makanan, dan akhirnya mencapai usus.

Karena daerah jajahannya yang sedemikian luas, cacing ini tak hanya menimbulkan masalah di usus, tapi juga di jaringan otot, paru-paru, dan lambung. Selain bisa menyebabkan anemia, cacing ini juga bisa menyebabkan radang paru-paru dan radang tenggorokan.

Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus halus yang hanyak berisi makanan. Meski ada juga yang tinggal di usus besar, dekat dengan �pintu keluar�, misalnya cacing keremi.

Di malam hari, cacing betina dewasa mengendap-endap pergi ke �katup belakang� untuk meletakkan telur. Ulahnya yang kurang ajar ini bisa menimbulkan rasa gatal hebat di sekitar anus Usrok.

Jika Usrok selalu menggaruk-garuk anusnya saat lagi tidur, bisa jadi itu pertanda cacing keremi sedang beraksi. Saat digaruk, telur-telur ini bersembunyi di jari dan kuku Usrok. Sebagian lagi menempel di seprei, bantal, guling, dan pakaiannya. Lewat kontak langsung, telur menular ke orang-orang yang tinggal serumah dengan Usrok. Lalu, siklus cacingan pun dimulai lagi.

Kuncinya Hidup Bersih

Menurut Adi Sasongko, kunci pemberantasan cacingan adalah memperbaiki higiene dan sanitasi lingkungan. Misanya, tidak menyiram jalanan dengan air got. Sebaiknya, bilas sayur mentah dengan air mengalir atau mencelupkannya beberapa detik ke dalam air mendidih. Juga tidak jajan di sembarang tempat, apalagi jajanan yang terbuka. Biasakan pula mencuci tangan sebelum makan, bukan hanya sesudah makan. Dengan begitu, rantai penularan cacingan bisa diputus.

Pada saat bersamaan, anak-anak yang menderita cacingan harus segera diobati. Namun, meski semua anak sudah minum obat cacing, tak berarti masalah cacingan akan selesai saat itu juga.

Pemberantasan cacingan adalah kerja gotong royong yang butuh waktu bertahun-tahun. Negara maju sepenti Jepang pun pernah dibuat sibuk oleh ulah para cacing perut ini. Setelah kalah oleh Sekutu saat Perang Dunia II, Jepang jatuh menjadi negara miskin. Karena miskin, mereka menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk pertanian.

Akibatnya, penularan cacing menjadi tak terkendali, sampai menyerang 80% penduduk. Butuh waktu 10 tahun untuk menurunkan angka kecacingan hingga di bawah 10%.

Pada kasus cacingan ringan sampai sedang, gejalanya sulit dikenali. Untuk memastikan, anak-anak harus diperiksa tinjanya dengan mikroskop. Jika terbukti mengandung telur cacing, ia harus segera diobati. Dengan obat cacing tentunya. Namun, bila lewat pemeriksaan ternyata anak-anak terbukti sehat, simpan saja obat itu di kotak obat untuk digunakan bila di dalam perut si Usrok berkeliaran cacing perut. (Intisari)

SUMBER : DEPKES RI

Anemia Infeksi Kecacingan

Hubungan Antara Anemia Infeksi Kecacingan pada Ibu Hamil terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah

Ditulis pada Mei 30, 2008 oleh Ihm hambuako

Nur Eli Asomah[1], Teguh Rubedo[2], Siti Helmyati[3], Wijianto4

INTISARI

Latar Belakang: Penyakit Infeksi dan parasit merupakan masalah kesehatan yang menonjol, shg pencegahan dan pemberantasan memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh. Prevalensi dan intensitas infeksi kecacingan masih cukup tinggi, yaitu antara 40-60% pada golongan semua umur, pada anak sekolah dasar lebih tinggi, yaitu 60-80% secara kumulatif infeksi kecacingan dapat menimbulkan kekurangan kalori, protein dan darah Hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Banggai tahun 2006 didapatkan bahwa 88.9% ibu hamil terinfeksi kecacingan dengan jenis cacing adalah Ascaris lumbricoides, Trichiuris trichiura dan Hook worms, diantara ibu hamil yang menderita infeksi kecacingan terdapat 38.8% menderita anemia

Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan anemia infeksi kecacingan pada ibu hamil terhadap kejadian Bayi berat lahir rendah di kabupaten Banggai Sulawesi Tengah

Metodologi Penelitian : Penelitian ini dilakukan di Banggai dan merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian kohort. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2007. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil yang menjadi responden pada penelitian anemia 2006 pada bulan September s/d November, sebanyak 298 ibu hamil. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 85 orang kasus dan 85 orang kontrol. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan adalah uji Chi - Square dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil Penelitian : Ibu yang menderita anemia jumlah anak yang dilahirkan dengan status BBLR sebesar 18,8%, sedangkan pada kelompok ibu yang tidak menderita anemia yang melahirkan dengan dengan BBLR 15,3%. ibu yang terinfeksi kecacingan dengan intensitas berat melahirkan anak 31% dengan status BBLR, dan ibu yang terinfeksi kecacingan dengan intensitas berat melahirkan anak 38.3% dengan berat badan normal . Ibu hamil yang menderita anemia dan terinfeksi kecacingan yang melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah terdapat 55,2%. Sedangkan ibu yang tidak anemia anaknya yang lahir dengan berat badan lahir rendah sebanyak 44,8%

Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna Anemia infeksi kecacingan dengan kejadian berat badan lahir rendah. Infeksi kecacingan pada ibu hamil tidak mempengaruhi secara langsung terhadap kejadian BBLR

SUMBER : DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANGGAI

Akibat Cacingan Indonesia Rugi Rp 33 M

Cacingan dan kerugian negara berbanding lurus. Makin banyak anak Indonesia menderita cacingan, semakin banyak pula kerugian negara. Hati-hati cacingan!

Hasil survei Bank Dunia terbaru menunjukkan Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 30-33 miliar per tahun akibat penyakit cacing, meski itu bukan penyakit kronik dan endemik.

Hal itu disampaikan pakar kesehatan Hendrawan Nadesul di sela-sela Workshop Nasional bertajuk "Program Dedikasi Lifebuoy Berbagi Sehat" di Hotel Menara Peninsula, Jl S Parman, Slipi, Jakarta, Selasa (11/7).

"Jika aset-aset negara kita menderita
cacingan, kehilangan karbohidrat, protein, anemia, dan produktivitasnya menjadi rendah, maka Indonesia akan banyak merugi. Generasi penerusnya menjadi tidak berkualitas," jelas Hendrawan.

Di Indonesia, cacing yang paling banyak menginfeksi manusia dan ditularkan lewat tanah ada tiga jenis, yaitu cacing gelang, cacing cambuk, dan cacing kait atau cacing tambang.

Cacing yang terakhir ini terdiri atas Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Dari dua jenis ini, yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Necator americanus.

Diungkapkan dia, kebiasaan hidup yang tidak sehat merupakan salah satu penyebab tingginya angka penderita
cacingan di Indonesia.

Berdasarkan survei Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Cacing di Indonesia tahun 1992, angka penderita penyakit cacing di Indonesia mencapai 60-90 persen dari total jumlah anak di Indonesia. Penyakit tersebut banyak diderita anak umur 5-14 tahun.

"Keadaan ini dipicu oleh tidak dibudayakannya kebiasaan hidup sehat sejak dini. Yang dibiasakan selama ini hanya mengobati, bukan mencegah," tambah Hendrawan.

Menanggapi hal ini, pakar sosiologi Imam Prasodjo mengatakan kebiasaan itu harus diubah. Tentu saja, perubahan memerlukan struktur dan sistem yang baru.

"Jika ada struktur dan sistem yang baru, mungkin Puskesmas akan berubah. Mungkin di Puskesmas akan ada dapur, tempat fitness dan fasilitas lain. Puskesmas bukan hanya untuk mengobati tetapi untuk pencegahan," papar Imam.

Diare
Selain penyakit
cacingan, masyarakat juga harus mewaspadai diare. Sebab diare adalah penyebab kematian ke-3 pada balita, dan ke-5 pada semua umur.

"Menurut survei Sub Bidang Diare Depkes tahun 2000, angka penderita diare di Indonesia adalah 301 per 1.000 penduduk," ujar Hendrawan.

Bahkan diare masih sering menimbulkan kejadian luar biasa, karena mengakibatkan banyak penderita dalam waktu singkat.

SUMBER : HARIAN GLOBAL

Cacingan Turunkan Kualitas Masyarakat

Penyakit cacingan memang tidak membahayakan nyawa, tapi mampu membuat kualitas hidup penderitanya turun drastis, karena bisa membuat anak bodoh dan anemia. Celakanya, hingga kini angka penderitanya masih termasuk cukup tinggi.

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka infeksi cacing atau cacingan di Indonesia ternyata masih cukup tinggi. Tercatat, lebih dari satu miliar penduduk dunia menderita cacingan, dan menular melalui tanah. Indonesia sendiri termasuk negara dengan angka penderita cacingan cukup tinggi.
Menurut Menteri Kesehatan Dr Achmad Sujudi, sekitar 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia menderita cacingan, dan sebagian di antara mereka yang terinfeksi cacing ini hidup pada wilayah kumuh dengan jenis penularan baik melalui makanan atau langsung berhubungan dengan tanah yang banyak mengandung vektor cacing, terutama mudah terinfeksi pada orang yang tidak mengenakan alas kaki.
Penderita cacingan umumnya anak sekolah, karena pada kelompok inilah survei terhadap penyakit cacingan paling mudah diadakan, terutama pada anak Sekolah Dasar. Di Jakarta, pernah terdeteksi sekitar 49,5 persen dari 3.160 siswa di 13 SD ternyata menderita cacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi, yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa laki-laki yang hanya 48,5 persen.
Sementara itu Ketua Yayasan Kusuma Bangsa (YKB) dr. Adi Sasongko mengungkapkan, dari hasil penelitiannya siswa yang terinfeksi cacingan menderita kekurangan hemoglobin hingga 12 gr persen, dan akan berdampak terhadap kemampuan tubuh membawa oksigen ke berbagai jaringan tubuh, termasuk pula ke otak. Ujung-ujungnya, penderita cacingan terserang penurunan daya tahan tubuh serta metabolisme jaringan otak. Bahkan, dalam jangka panjang, penderita akan mengalami kelemahan fisik dan intelektualitas.
Ditambahkannya, kategori infeksi cacing ditentukan dari jumlah cacing yang dikandungnya. Jika anak-anak itu sudah terinfeksi cacing, biasanya akan menunjukkan gejala keterlambatan fisik, mental, dan seksual. Kendati jarang merenggut nyawa korbannya, cacingan bisa menimbulkan gangguan gizi serta anemia defisiensi zat besi. Karenanya meskipun tidak menyebabkan kematian, tapi jangan sepelekan masalah infeksi cacing ini, sebab dapat menurunkan kualitas penderitanya baik anak-anak maupun orang dewasa.
Secara terpisah dr Is Suhariah Ismid,DTM&H, pakar yang menggeluti infeksi cacing dari Universitas Indonesia mengatakan, remaja yang mengalami anemia akibat infeksi cacingan telah menunjukkan penurunan prestasi belajarnya. Tetapi, setelah mereka diberi suplemen besi (Fe) selama lebih dari tiga bulan, hasilnya ternyata membuktikan remaja tersebut mengalami peningkatan kembali prestasi belajarnya.

Upaya pemberantasan
Upaya pemberantasan penyakit cacaingan di Indonesia belum dikatakan berhasil, karena baru mencakup 10 persen saja dari siswa sekolah. Program pemberantasan cacingan selama empat tahun sejak 1996 melalui Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) baru mencover 9,8 juta anak sekolah. Jadi baru 10 persen siswa dari 100 juta anak usia sekolah yang tersentuh.
Kegagalan pemberantasan cacing di Indonesia, kata Adi Sasongko, lebih disebabkan karena salah dalam menentukan cara pendekatannya. Pendekatan Blanket atau pemberian obat, menurut Adi kurang efektip untuk mengurangi cacingan, di samping menelan terlalu banyak biaya. Pendekatan yang paling efektip adalah preventif dan kuratif yang dilihat dari aspek medis.
Keadaan ini diperparah dengan kebiasaan warga Jakarta menyiram jalan berdebu dengan air got, untuk menghindari gumpalan debu yang berterbangan. Ternyata, itu berakibat buruk bagi kesehatan, karena justru dapat menyebarkan telur-telur cacing di jalan. Bila air got tersebut mengering telur cacing ini akan ikut terbang tertiup angin dan menempel pada makanan dan selanjutnya siap menginfeksi manusia yang menelannya bersama makanan.
Di beberapa kawasan di Jakarta, pemandangan orang buang air besar di kali atau got-got sudah bukan hal aneh lagi. Padahal, ketika banjir yang bercampur dengan kotoran manusia meluap, kembali ke rumah-rumah penduduk. Kemudian anak-anak bermain di halaman atau di jalan-jalan, akhirnya cacing pun masuk ke tubuhnya.
“Untuk menghindari terkontaminasinya makanan dengan cacing, hendaknya semua makanan ditutup. Selain itu, sebelum makan sebaiknya anak-anak dianjurkan untuk mencuci tangan dan memotong kuku sependek mungkin, serta minum obat cacaing secara teratur,” kata Suhariah. RIS

SUMBER : GEMARI ONLINE


Faktor Infeksi Kecacingan sebagai penyebab anemia

Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Pawlowski 1984 mengumpulkan berbagai data dari berbagai negara berkembang di Asia. Afrika dan Amerika Latin, dan menempatkan kecacingan seperti infeksi cacing gelang pada tempat ketiga setelah penyakit diare dan tuberkulosis, infeksi cacing tambang pada tempat keempat dan infeksi cacing cambuk pada tempat ketujuh[a1] .
Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang, cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi.

Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing. terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka. orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia.
Perdarahan itu terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat perembesan darah disekitar tempat hisapan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat karena turn over sel epithel usus sangat cepat.
Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri . walaupun ini masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan infeksi cacing ini.
Untuk mengetahui banyaknya cacing tambang didalam usus dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya telur dalam tinja. Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja. berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang didalam perut dan dapat menyebabkan darah yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. Bila terdapat 20.000 telur/gram tinja berarti ada kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat

SUMBER : CAROLINE’S WEBLOG

CACINGAN PADA ANAK

Dr. Ferry Damarjadi SPA dari Nusantara Medical Center mengatakan Penyakit cacingmasih banyak dialami masyarakat Indonesia terutama yang kondisi sanitasinya buruk. Beberapa jenis cacingbisa hidup di usus manusia. Meskipun telur cacing hidup di permukaan tanah, di selokan, dan sungai yang tercemar tinja orang cacingan. Nah bagaimana cacingan ini bisa mengenai anak dan orang di kota besar?

SUDAH pernah ada penelitian di supermarket, kalau sebagian sayur-mayur sudah tercemar telur cacing. Sayur-mayur di Jakarta dan sekitarnya berasal dari daerah Puncak, Cipanas, atau Sukabumi yang sering memakai pupuk tinja (binatang dan atau manusia). Kebiasaan membersihkan sayur-mayur yang baru dipanen, di air selokan atau air sungai itulah yang menjadi sumber penyebabnya.

Penyakit cacing diidap sebagian besar masyarakat (pedesaan). Hampir sebagian besar masyarakat pernah, atau masih mengidap salah satu penyakit cacing. Cacing gelang, jenis cacingan terbanyak, atau cacing cambuk, cacing kremi, dan cacing tambang. Sedikit saja yang mengidap cacing pita.

Penularan cacingan ini lewat telur cacingnya. Cacing yang habitatnya di usus manusia, bertumbuh dan berkembang biak, lalu bertelur. Telur sebagian akan dikeluarkan, atau ikut keluar bersama keluarnya tinja. Maka di dalam tinja penderita cacingan, apa pun jenis cacingnya, akan mengandung telur cacingnya. Sehingga tinja orang cacingan merupakan sumber penular penyakit cacing.

Oleh karena kebiasaan buang air besar masyarakat di pedesaan masih belum seluruhnya higienis.memudahkan penularan. Buang air besar di comberan, di permukaan tanah, di kandang hewan, di selokan, atau sungai harus dilarang. Dengan demikian lingkungan pemukiman tidak akan tercemar oleh telur cacing.

Telur cacing dapat bertahan hidup lama di alam bebas, khususnya di permukaan tanah, air sungai, dan semua tempat yang tercemar tinja pengidap cacingan. Berbulan-bulan telur cacing berserakan di mana-mana di sekitar pemukiman. Apabila tangan tercemar oleh telur cacing, dan telur cacing terbawa masuk bersama makanan, maka orang akan tertular penyakit cacingan.

Anak yang biasa bermain di tanah, atau bermain kelereng, termasuk bayi merangkak, yang tangannya memegang tanah, berisiko tercemar telur cacing. Jika telur cacing pada kuku dan jemari tangannya memasuki mulut, kemudian tertelan, maka penyakit cacing ditularkan.

Oleh karena itu kebiasaan membasuh tangan secara benar, sampai pada setiap wilayah permukaan tangan, termasuk sela jemari kuku, adalah cara paling efektif menekan angka penyakit cacing nasional.

SUMBER : DRADIO 103,4FM